Posts

,

Jalanan Masa Depan

Image by : HerizkArt Gallery

Berjalan terus ku berjalan. Lelah ku mendaki. Tapi keharusan mengikutiku. Sekali-kali terdapati langkah yang teduh, dan melangkah pelan sejenak untuk bernafas. Sekali-kali terdapati langkah berat, panas dan tak satupun rindang menghampiri.

Masih jauh tujuan langkahku. Satu persatu tertinggal bekas sepatu yang aku kenakan. Hanya bayangan yang selalu setia menemani. Bayangan yang tak pernah mengeluh akan egoku, tak pernah terlihat letih mengikutiku, tak pernah sekali pun pergi walau hujan menyelimuti.

Written by : Kamil

,

Tulisan Untuk Adik

Tetaplah engkau menjadi cikal ku

Meski arus sungai perlahan memisahkan kita

Meski entah di hamparan mana engkau menepi

Tetaplah engkau cikalku

Meski suatu nanti engkau tumbang oleh hembusan angin

Terus lah tumbuh meski membengkok

Ingatlah tujuanmu untuk menggapai langit

Teruslah kau bermimpikan buah buah surga

Walau rasamu hambar, tapi airmu tetap suci

Walau batangmu tinggi, engkau tetap menundukkan daunmu

Written by : Cemplenk Minoritas

,

Nirwana Keabadian Cinta

Kasih dengarlah bisik ku.

Kan ku beri dikau keindahan.

Bersama indahnya bias mentari pagi di tepi telaga.

Jauh menerawang ke atas nirwana keabadian cinta.

Bercerita tentang betapa aku sangat  mengasihi.

Sangat ingin ku berbagi secangkir teh hangat di puncak gunung asmara bersamamu.

Menjalani cinta se damai aksara alam di pagi yang tenang.

Written by : Cemplenk Minoritas

,

Merak Bulan Di Ujung Senja

Senja di sore itu.
Biaskan mentari tenggelam.
Seakan ku terbang dalam lamunan pekat memudar.
Terpaku dalam imaginasi.
Secarik senyum dengan warna memerah.
Merona menantang hasrat di jiwa.
Tatap mata yang sayu, gambarkan lelah jiwamu.
Rambut lurusmu yang berderai di terpa angin tepian sungai.
Jiwaku melemah, ketika ku tatap linang air matamu.
Mengalir menggaris pipi indahmu.
Tersenyumlah manis.

Written by : Cemplenk Minoritas