,

Sepucuk Kerinduan

Pagi yang ku jelang kini tak lagi dengan senyuman.

Sejak saat itu.

Di balik atap yang di guyur hujan lebat.

Berkilat kilat cahaya petir.

Terdengar samar isak tangis ibu.

Terdengar pula teriakan ayah yang menggelegar seperti guntur.

Aku terkejut dan merasa takut.

Hati bertanya, ada apa gerangan terjadi?

Namun aku hanya gadis kecil yang masih terlalu malang untuk tau yang terjadi.

Ku tarik lagi selimut hangatku.

Airmataku pun tak tertahan.

Karna aku tau ibu sedang bersedih.

Malam semakin larut, aku pun terbuai dalam mimpi yang indah.

Written by : Cemplenk Minoritas

1 reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Notify me of followup comments via E-Mail.
You can also followup comments without commenting.