,

Tinggal Lah Aku

adinda
aku masih seksama mengulas masa indah kita
aku merasakan,masih terlalu basah
luka yang baru semalam kau gores
kini kau basuh lagi dengan cuka dan air garam
dan kau tinggalkan ku bersama cinta kita
adindaku tersayang

Written by : Cemplenk Minoritas

,

Jalanan Masa Depan

Image by : HerizkArt Gallery

Berjalan terus ku berjalan. Lelah ku mendaki. Tapi keharusan mengikutiku. Sekali-kali terdapati langkah yang teduh, dan melangkah pelan sejenak untuk bernafas. Sekali-kali terdapati langkah berat, panas dan tak satupun rindang menghampiri.

Masih jauh tujuan langkahku. Satu persatu tertinggal bekas sepatu yang aku kenakan. Hanya bayangan yang selalu setia menemani. Bayangan yang tak pernah mengeluh akan egoku, tak pernah terlihat letih mengikutiku, tak pernah sekali pun pergi walau hujan menyelimuti.

Written by : Kamil

,

Sajak Jangkrik Pikun

Lambat laun benerang
Warnamu entah apa
Kriik, kriiiiik, jangkrik pun kebingungan
Apa ini tuhan?
Atau itu hanya ilusiku?
Ah, entah
Terus jangkrik menggali
Lupa dengan bintang luas bersudut abstrak

Written by : Cemplenk Minoritas

,

Tulisan Untuk Adik

Tetaplah engkau menjadi cikal ku

Meski arus sungai perlahan memisahkan kita

Meski entah di hamparan mana engkau menepi

Tetaplah engkau cikalku

Meski suatu nanti engkau tumbang oleh hembusan angin

Terus lah tumbuh meski membengkok

Ingatlah tujuanmu untuk menggapai langit

Teruslah kau bermimpikan buah buah surga

Walau rasamu hambar, tapi airmu tetap suci

Walau batangmu tinggi, engkau tetap menundukkan daunmu

Written by : Cemplenk Minoritas

,

Sepucuk Kerinduan

Pagi yang ku jelang kini tak lagi dengan senyuman.

Sejak saat itu.

Di balik atap yang di guyur hujan lebat.

Berkilat kilat cahaya petir.

Terdengar samar isak tangis ibu.

Terdengar pula teriakan ayah yang menggelegar seperti guntur.

Aku terkejut dan merasa takut.

Hati bertanya, ada apa gerangan terjadi?

Namun aku hanya gadis kecil yang masih terlalu malang untuk tau yang terjadi.

Ku tarik lagi selimut hangatku.

Airmataku pun tak tertahan.

Karna aku tau ibu sedang bersedih.

Malam semakin larut, aku pun terbuai dalam mimpi yang indah.

Written by : Cemplenk Minoritas