Pagi yang ku jelang kini tak lagi dengan senyuman.

Sejak saat itu.

Di balik atap yang di guyur hujan lebat.

Berkilat kilat cahaya petir.

Terdengar samar isak tangis ibu.

Terdengar pula teriakan ayah yang menggelegar seperti guntur.

Aku terkejut dan merasa takut.

Hati bertanya, ada apa gerangan terjadi?

Namun aku hanya gadis kecil yang masih terlalu malang untuk tau yang terjadi.

Ku tarik lagi selimut hangatku.

Airmataku pun tak tertahan.

Karna aku tau ibu sedang bersedih.

Malam semakin larut, aku pun terbuai dalam mimpi yang indah.

Setelah pagi tiba, aku semakin terkubur dalam kesedihan.

Setelah ku beranjak langkahkan kakiku menuju kamar ibu.

Tak seorang pun ku dapati.

Hanya ada ruangan kacau berantakan.

Lemari ibu yang kosong.

Dan ada bercak darah ku lihat di ubin.

Tangis ku semakin pecah.

Hanya berteriak, ibuuuuuuu……

Hanya keheningan yang menjawab.

Sejak itu, aku hanya dapat mengingat hari hari penuh kasih dari seorang ibu.

Dan sekarang, senyuman tulus itu hanya ada dalam bingkai yang tersusun rapi di meja belajarku.

Ibu, gadis kecilmu rindu.

Buah cintamu ini akan terus berdo’a untuk malaikat nyata yang kini tak ku ketahui seindah apa senyumanya.

Written by : Cemplenk Minoritas

ibu dan anak
  • 081317918669

    Call Me : Cemplenk Minoritas

  • 59A82BDA

    Follow Me on BBM

  • Pekanbaru, Riau

    My Location

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Notify me of followup comments via E-Mail.
You can also followup comments without commenting.