Bagi saya pribadi pendakian ke gunung Slamet, adalah pendakian paling berkesan dan paling membekas dari semua pendakian yang pernah saya lakukan. Bagaimana tidak, begitu banyak cerita dibalik pendakian ini baik sebelum, saat, dan sesudah pendakian dari gunung paling tertinggi di Jawa Tengah dan ke 2 tertinggi di pulau jawa ini.

Pendakian gunung Slamet saya lakukan pada pertengahan Juli 2016 tepat 2 minggu setelah lebaran Idul Fitri. Yang tidak pernah saya lupakan adalah 10 hari sebelum pendakian saya harus mendekap di rumah sakit karena sakit demam berdarah.

Karena pendakian ini sudah saya dan rombongan niatkan jauh jauh hari, walaupun baru 4 hari keluar dari rumah sakit, saya tetap bersikeras melanjutkan perjalanan ke Jawa Tengah untuk mendaki. Walaupun sempat di tahan dari berbagai pihak terutama keluarga, saya terus meyakinkan mereka kalau saya sanggup untuk melakukan pendakian.

Sehari sebelum berangkat saya control kerumah sakit, dan meminta pendapat dokter. Untungnya saat itupun dokter juga memberi lampu hijau walaupun trombosit saya waktu itu masih dibawah normal. Akhirnya dokter memberi catatan akan ada obat khusus yang harus saya konsumsi jika tetap melakukan kegiatan pendakian ini.

Memang dasarnya keras kepala, akhirnya saya dan tim berkumpul malamnya untuk melakukan persiapan. Anggota tim saya pun menjadi time keeper dan pengingat sekaligus menjadi asisten pribadi saya dalam hal kesehatan dan obat obat saya.

Esok sorenya saya dan rombongan, berkumpul di pool Sinar Jaya Pasar Minggu. Berangkat dari Pasar Minggu pada pukul 18:00 saya dan rombongan pun tiba di terminal Purbalingga pukul 03:00. Melanjutkan perjalanan dengan mobil carteran menuju pos pendakian Bambangan, saya dan rombongan tiba di pos pendakian sekitar pukul 04:30.

Saya dan rombongan beristirahat di basecamp milik Bu Brahma. Rumah Bu Brahma memang selalu terbuka untuk para pendaki gunung Slamet. Walaupun saat itu kami tiba dini hari, Bu Brahma menyambut kami dengan secangkir teh hangat untuk kami, benar benar seperti datang kerumah orang tua kami sendiri hehe.

Setelah istirahat sejenak dan sholat subuh, kami pun melakukan persiapan ulang. Untuk sarapan, kamu juga bisa memesan makanan di rumah Bu Brahma. Rugi sih kalau kamu ga nyobain nasi gorengnya Bu Brahma.

Setelah bersiap dan sarapan, kami….

Kami melanjutkan tidur hahahaha. Karena jujur masih capek dan rumah Bu Brama sangatlah nyaman wkwkwk. Bangun pukul 09:00 kami pun memulai perjalanan pada pukul 10:00 setelah mengisi buku tamu dan membayar SIMAKSI untuk izin pendakian.

Kendala pertama yang harus saya hadapi bersama rombongan adalah kami harus menunda pendakian selama 1 jam. Dikarenakan salah seorang anggota tim kami, Irma mengalami pusing. Setelah minum obat dan sedikit reda sakit kepalanya, kami pun memulai pendakian ini dengan Bismillah.

Berikut Rincian Waktu Perjalanan Kami Dari Pos Ke Pos :

Basecamp – Pos 1 (150 Menit)

Sebelum pendakian, berfoto bersama di gerbang pendakian Bambangan (Yang hits) ini sepertinya sudah menjadi kewajiban hahaha. Menuju Pos 1 track masih terbilang landai pada 1 jam pertama. Melewati perkebunan warga dan aliran sungai merupakan salam yang manis di pembuka petualangan saya dalam mendaki gunung Slamet.

Pos 1 ditandai dengan shelter yang dibuat dari seng. Sekitaran shelter juga banyak sekali pondok untuk tempat beristirahat. Di pondok pondok ini juga tersedia makanan dan minuman. Yang dijual pun beragam, mulai dari nasi sayur telur, gorengan, minuman hingga buah pun ada.

Karena saya sampai di pos ini pada jam jam makan siang, saya dan rombongan pun menghabiskan waktu sekitar 30 menit lebih untuk istirahat disini sembari mengisi perut. Jadi tidak repot lagi mengeluarkan alat masak dan sebagainya.

Sekitar pukul 14:00 kami melanjutkan perjalanan menuju pos 2.

Pos 1 – Pos 2 (90 Menit)

Track semakin sulit terasa. Kalau ada yang menjual pundak baru, akan saya beli disini hahaha. Pos 2 ini juga memiliki lahan yang cukup luas untuk beristirahat. Masih ada beberapa pedagang pikul yang membawa gorengan dan menyediakan air hangat untuk menyeduh minuman di pos ini.

Pos 2 – Pos 3 (60 Menit)

Dalam perjalanan dari pos 2 hingga pos 3 kami sempat di guyur gerimis kecil. Saat saya dan rombongan sampai di pos ini hanya tinggal seorang pedagang saja yang menjajakan gorengan dan minuman. Area pos 3 sendiri tidak terlalu luas. Tapi masih bisa dipakai camping untuk 3-5 tenda. Di pos ini juga kami diingat kan oleh bapak yang berdagang untuk tidak berhenti di pos 4 dan melanjutkan perjalanan hingga di pos 5. Kata sibapak, kalau tidak yakin mending istirahat disini dulu, setidaknya hingga magrib terlewati.

Pos 3 – Pos 4 (55 Menit)

Tapi karena kami sudah sepakat untuk camp di pos 5 akhirnya kami meyakinkan diri untuk lanjutkan perjalanan. Benar saja, pada akhirnya kami bertemu magrib saat melewati pos 4. Keaadaan semakin terasa mencekam ditambah gerimis yang masi saja menghiasa perjalanan kami disaat hari mulai gelap.

Pos 4 – Pos 5 (45 Menit)

Karna saran si bapak di pos 3 tadi, akhirnya kami terus saja berjalan walau pelan. Kondisi badan yang sudah lelah dan perut yang mulai keroncongan tentu membuat kondisi kami semakin lemah. Saya sendiri sempat pusing dan meminta jalan paling depan pada rombongan. Sugesti dan aroma mistis saat melalui pos 4 ini memang sungguh kuat.

(Baca : Kisah Mistis Gunung Slamet, dan Mencekamnya pos 4 Samarantu)

Akhirnya sampai juga kami pada check point tempat kami nge-camp. kami sampai kira kira pukul 19:30 di pos 5 ini dengan kondisi pos yang sudah banyak sekali tenda berdiri. Pos 5 memang menjadi favorit pendaki untuk bermalam dari jalur bambangan ini.

Selain tempatnya yang lumayan luas, di pos ini juga terdapat sumber air.

Pos 5 – Pos 6 (10 Menit)

Karena cukup lelah, kami pun baru terbangun jam 05:30 untuk summit. Setelah sarapan, kami memulai perjalanan kembali. Track tidak terlalu sulit dan jarak k epos 6 tidak begitu jauh.

Pos 6 – Pos 7 (20 Menit)

Begitu pula dari pos 6 ke 7 juga tidak begitu jauh, tapi track sudah sedikit menanjak.

Pos 7 – Pos 8 (10 Menit)

Hingga sampai ke pos 8 tipe jalur masih sama saja dengan 2 pos sebelumnya. Dan memang singkat jadi tidak begitu terasa menyiksa.

Pos 8 – Pos 9 Plawangan (15 Menit)

Perjalanan dari pos 8 ke pos 9 vegetasi mulai sedikit berubah. Pohon pohon yang tumbuh semakin jarang jarang. Dan track pun sedikit lebih menantang dari 3 pos sebelumnya.

Sesampainya di pos 9, kami menikmati pemandangan dan matahari yang sudah mulai meninggi. Ditandai dengan plang warna merah, pos 9 ini juga menjadi batas vegetasi (sudah tidak ada lagi tumbuhan yang hidup. Hanya ada bebatuan.

Pos 9 – Puncak (45 Menit)

Dari pos 9 ke puncak, jalan memang sangat curam dan terjal. Sesekali kamu harus merangkak untuk bisa sampai kepuncak gunung Slamet ini, karena jalan begitu licin. Bagaimana tidak, tumpuan kamu hanya pada batu batu yang belum tentu kokoh untuk dijadikan pegangan agar tidak tergelincir di track pasir.

Tapi semua itu terbayarkan ketika kamu sampai di puncak Slamet ini. Samudra awan menyambut kehadiranmu dari atas sini. Lelah seketika hilang. Bahkan haru hadir karena kamu berasil menapakkan kaki di puncak tertinggi Jawa Tengah ini.

Terlebih saya pribadi, yang jika di ingat – ingat baru saja 4 hari lalu keluar dari rumah sakit, dengan bekas infus yang masih sangat jelas di tangan.

Saya dan rombongan turun dari puncak kira kira pukul 12:00. Sesampainya ke camp di pos 5, saya dan rombongan segera masak untuk makan siang dan beres beres. Untuk turun kembali ke basecamp.

Perjalanan turun kami mulai pada pukul 16:30. Dan sampai di basecamp Bu Brahma pada pukul 21:00 dengan segala kejadian diluar nalar.

Dengan kejadian kejadian itulah yang membuat saya dan rombongan tidak percaya bahwa saya benar benar sudah berhasil turun dan sampai kembali di basecamp dengan selamat. Saya dan rombongan pun memutuskan untuk beristirahat semalam lagi dirumah bu Brama dan bertolak pulang ke Jakarta esok harinya Pada pukul 15:00.

Masalah transport masih sama dengan bagaimana kami bisa sampai di pos Bambangan ini. Dengan mobil pickup yang kami sewa (sudah tersedia di basecamp), kami diantarkan langsung ke Terminal Purbalingga, dan menaiki bus Sinar Jaya jurusan Jakarta, Lebak Bulus.

Rincian Biaya:

  • Bus Sinar Jaya Jakarta – Purbalingga  : 120.000
  • Mobil carteran Terminal Purbalingga  – Bambangan : 25.000
  • Biaya SIMAKSI / Pendaftaran pendakian : 7.000
  • Mobil carteran Bambangan  – Terminal Purbalingga : 25.000
  • Bus Sinar Jaya Purbalingga – Jakarta : 120.000

Total : 297.000

*(Juli 2016) Harga bisa berubah sewaktu waktu, kaya harga bensin rezim now.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Notify me of followup comments via E-Mail.
You can also followup comments without commenting.