Image by : Gumz

Lelahmu dan lelahku pastinya tak sama.

Lelah seorang penyapu jalanan dan lelah seorang Manager Bank ternama juga pasti berbeda.

Lelah seorang Sutradara film dan lelah seorang Aktor pun pasti berbeda.

Lelah seorang Ibu rumah tangga mengurus keluarga dan lelah seorang anak menghapalkan rumus fisika pun pastinya berbeda.

Dan lelahnya seseorang yang menunggu dan terus menunggu tanpa kepastian. Ini lelah sama bego beda tipis.

Sempat terlintas dipikiranku, bagaimana jika status sosial dan gaji dari manusia di Bumi ini berdasarkan seberapa lelah dia bekerja. Mungkin para pekerja yang kerjanya sangat keras dan membutuhkan banyak energi akan menguasai dunia, seperti para kuli, tukang becak, supir angkot, penyapu jalanan, pekerja bangunan, kaum terlantar, kaum tertidas, jomblo, ya macem-macemlah.

Terkadang aku berfikir, terkadang juga tidak, kalau lagi males. Begini teman, mengapa hidup begitu tak adil ya? Mengapa orang yang bekerja lebih lelah tak dibayar sesuai pekerjaannya yang sangat melelahkan. Mengapa seorang yang “hanya” duduk dan diam didepan monitor bisa mendapatkan honor yang lebih layak? Aku pernah mengajak ngobrol salah seorang tukang becak di kota Medan. Kalo tidak salah namanya adalah  Pak Darto, beliau bercerita panjang lebar mengenai pengalamannya menjadi tukang becak, karena terlalu panjang, jadi tidak mungkin aku ceritakan disini, begitu.

Namun kemudian, aku mendapatkan secercah jawaban dari permasalahan lelah ini. Kalau lelah sendiri sebenarnya bukan hanya melulu soal keringat, bukan melulu soal tenaga, melainkan lelah berpikir juga harus dihitung. Jadi sekarang aku sudah paham, itulah gunanya belajar apapun, itulah gunanya belajar di sekolah, agar otak kita dilatih untuk lelah berpikir, agar nantinya kita bekerja dengan menggunakan sebagian besar otak, daripada menggunakan tenaga. Makanya, sewaktu sekolah ataupun sewaktu kuliah itu kalo belajar ya belajar bener-bener, jangan bisanya pacaran aja. Itu tuh jadinya banyak anak muda sekarang yang hamil diluar nikah, kebanyakan pake tenaga sih, tapi nggak bisa pake otak.

Sering juga kita hanya melihat posisi seseorang ketika mereka sudah berada dititik kesuksesan. Namun, kita melupakan bagaimana lelahnya ia mencapai posisi tersebut. Aku percaya bahwa hidup ini adalah suatu konsep paling sistematis. Kita lahir sebagai bayi, kemudian tumbuh menjadi anak-anak, remaja, dewasa, lalu meninggal. Contoh lain, kita bersekolah sesuai sistemnya. Mulai dari TK, SD, SMP, SMA, S1, S2, S3 dan seterusnya. Tidak ada yang bersekolah langsung SMA kan? Akhirnya aku paham bahwa untuk sukses itu harus sistematis, akan banyak lelah-lelah yang dilewati sampai pada akhirnya lelah itu menjadi nikmat, dan lelah pun akan semakin berkurang. Aku sedang berada diposisi lelah yang berpotensi menyerah. Tapi tak mengapa, ini adalah sistem, yang akan aku lewati dan harus aku nikmati.

Kang ketoprak deket rumah pernah mengatakan begini:

“Dan jika suatu saat kamu merasa sudah lelah, duduk dan katakan ini belum berakhir, lalu bangkitlah, berjalanlah walau hanya satu langkah.”

Karena percayalah, tidak ada lelah yang berakhir sia-sia. Selamat Malam, salam hangat!

Written by : Rifat Nasution

Belajar Iklan Di Facebook 728x90
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Notify me of followup comments via E-Mail.
You can also followup comments without commenting.