“The mountains are calling and I must go” – Jhon Muir

Begitulah petikan kata seorang penggiat alam, pria asal Scotlandia yang hari ini, menjadi semangat kaum muda untuk mendaki gunung.

Di balik keindahan alamnya yang mempesona ternyata gunung juga menyimpan segudang cerita mistis. Seolah gunung telah dibungkus satu paket bersama makhluk astralnya. Jika kita bicara gunung dengan mitos makhluk halusnya, maka pembicaraan tentang Gunung Slamet, tidak mungkin kita lewatkan.

Sebut saja pos 4 atau yang dinamai pos Samarantu yang paling kental aroma mistisnya. Pos buat beristirahat ini akan di temui oleh pendaki yang melewati jalur Bambangan. Konon pos Samarantu ini diambil dari kata samar dan hantu. Hal ini pun dibenarkan oleh seorang ranger gunung Slamet, Agus, yang saya temui saat melakukan pendakian ke gunung Slamet.

Begitu pula dengan Seorang pedagang kopi yang saya temui di pos 3 bernama Rudi, mengungkapkan hal yang sama. “Kalau bisa, saat melewati pos 4 nanti, langsung terus jalan saja sampai pos 5 dan jangan lupa ucapkan salam,” ungkapnya.

Pos Samarantu ini ditandai dengan dua pohon besar yang sejajar menyerupai pintu. Pintu itu dipercaya sebagai pintu masuk juga bagi kerajaan makhluk astral. Tak jarang makhluk ini menunjukan wujudnya yang samar samar.

Tak sampai disitu, saya dan rombongan juga mengalama keganjalan ketika turun dari Slamet menuju basecamp Bambangan, saya dan 2 rekan seakan terus berjalan di tempat yang sama.

Pengalaman aneh ini terjadi ketika turun dari pos 2 ke pos 1 saya melewati satu pohon besar yang tumbang. Saya terus berjalan menuju pos 1. Tapi setelah lama berjalan, bukannya tiba di pos 1, saya malah bertemu kembali dengan pohon besar yang tumbang tadi.

Raka, salah saeorang teman seperpendakian saya juga menemui sosok anak kecil yang bermain di pos 1, dimana pos 1 ini adalah bangunan berbentuk pondok tempat pendaki beristirahat.

Tak cukup sampai disitu, disaat saya dan rombongan menuruni pos 1 menuju Basecamp, saya dan rombongan tersesat karena masuk jalur tim SAR / Bukan jalur pendakian untuk pendaki. Mulai dari jalan yang bercabang 2 hingga bercabang membuat saya dan rombongan yang sudah letih dan dehidrasi semakin frustasi.

Hal ini kami ketahui setelah saya mendapat sinyal dan berusaha menelfon tim Rescue di basecamp, guna menjelaskan bahwa saya dan rombongan yang sepertiny telah keluar dari jalur pendakian yang sebenarnya.

Isi kepala kami semakin tidak karuan setelah mendapatkan penjelasan singkat dari tim Rescue bahwa kami keluar jalur. “Mas nya salah jalur, itu jalur SAR” ucap suara ditelfon. Dan Sinyal pun hilang setelahnya. Pasrah dan terus berjalan yang bisa kami lakukan saat itu. Berharap keajaiban, dimana nantinya di ujung jalan yang kami tempuh ini aka nada kehidupan.

Dan beruntung bagi saya dan rombongan, setelah terluntang lantung selama 1 jam di antah berantah. Terlihat sebuah gapura yang menandakan itu adalah ujung dari perkebunan panjang ini.

Dan tak disangka.. itu adalah gapura pos pendakian Bambangan.

Alhamdulillah ucapku sambil berlari. Terimakasih ya Allah saya bisa pulang. Seolah gapura ini lebih indah dari pada puncak gunung Slamet bagi saya kala itu.

Begitu banyak kenangan yang digoreskan dari perjalanan gunung Slamet ini bagi saya.

Bu Brahma, yang menjadikan rumahnya basecamp gunung Slamet, menjelaskan bahwa mistisnya gunung Slamet mungkin karna aktivitas warganya sendiri.Warga ingin gunung ini sesuai dengan namanya yaitu Slamet atau selamat. Jadi sangat banyak doa maupun sesajen yang dikirimkan warga agar gunung ini tidak meletus.

Hal ini terjadi karna kepercayaan masyarakat jawa dalam ramalan Jayabaya. Suatu ramalan yang telah dianut semenjak kerajaan Kediri dalam tradisi jawa. Dimana  diterangkan jika gunung Slamet meletus, pulau Jawa akan terbelah menjadi dua.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Notify me of followup comments via E-Mail.
You can also followup comments without commenting.