Tidak terasa kita sudah berada dipenghujung tahun (lagi) teman-teman sebangsa dan sewarganegara. Apakah benar tidak terasa? Enggak itu cuma basa-basi kok. Yakali setahun habis nggak kerasa. Nah, mumpung kita masih dalam momen penghujung tahun, atau ya hanya penghujung bulan Desember sih, saya ingin membahas tentang hal tersebut.

Setiap akhir tahun ada saja perbuatan orang-orang yang mengganggu kehidupan dan ketentraman saya. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan perayaan tahun baru, namun beberapa oknum yang sering dipanggil “cabe” atau “alay” atau apalah mereka, sering sekali melebih-lebihkan apa yang harusnya terjadi biasa saja, menjadi sebuah fenomena yang sangat luar biasa super duper cememew cemimiw (begitulah). Oke langsung saja mari kita bahas satu-persatu.

 

1. RESOLUSI

Resolusi! Bisa saya pastikan kalian akan sering mendengar kata-kata ini hanya dipenghujung tahun saja. Setelah lewat pergantian tahun sudah dilupakan lagi. Yang sabar ya, resolusi. Banyak orang-orang diluar sana yang-setiap-akhir-tahun menyampaikan resolusinya dan di-post di publik atau social media. Pokoknya semua orang harus tahu. WHY? JUST WHY!!? Dan yang makin parah, resolusinya kadang aneh dan nggak penting untuk diketahui orang banyak. Contohnya, resolusi turun berat badan. Kami semua harus tahu kalau di 2016 kalian harus turun 20kg gitu? Oke, tapi bagaimana jika tidak berhasil turun 20kg? Merasa bersalah kah? Ada hukumannya kah? Tidak. Ujung-ujungnya dijadiin resolusi setiap tahun yang tidak pernah terealisasi. Gitu aja terus sampai Farhat abbas jadi presiden. Amit amit.

Resolusi ini bagi saya hanyalah kata-kata manis setiap akhir tahun, sebagai pencitraan doang sih pada umumnya. Mungkin tidak semua orang hanya omong doang, tapi sebagian besar iya. Jadi, resolusi yang benar itu berjanji pada diri sendiri, percaya sama diri sendiri, nggak perlu semua orang harus tahu perubahan kita, kan?  Dan yang paling penting emang bener-bener dilakukan. Resolusi juga tidak harus setiap tahun. Resolusi itu bukan ikut-ikutan. Kalau kita mau berubah ya semua tergantung diri kita bukan orang lain. Setuju?

 

2. TEROMPET

Oke, yang kedua kenapa terompet? Jujur saya tidak suka dan cenderung kasihan dengan kehadiran terompet. Suara mereka itu gimana ya menjelaskannya, cempreng lah pokoknya. Suaranya nggak enak didenger lah kayak omelan pacar. Lalu mengapa saya kasihan? Karena mereka hanya disuruh datang beberapa hari saja, dan digunakan hanya untuk beberapa jam saja. Sehabis digunakan, mereka terbuang dan dilupakan lagi. Pernah sekali saya menghadiri acara tahun baru yang berakhir menyedihkan. Terdapat setidaknya 2000 terompet bergeletakan ditanah, tidak sadarkan diri setelah acara puncak malam tahun baru. Mereka terinjak, mereka tertindas dan terlupakan, mereka hanya dimanfaatkan. Saya sangat sedih, maka dari itu saya tidak pernah membeli terompet lagi. Selain niupnya bikin sakit tenggorokan, saya paham betul rasanya dicampakkan setelah dimanfaatkan. Iya sakit.

 

3. MACET

Macet di tahun baru itu seperti konferensi serentak di berbagai kota. Kita sudah tahu kalau dijalanan bakalan macet, tapi tetap aja menghadirinya, kan? Ini sama halnya dengan hubungan, kita udah tahu kalau akhirnya bakal putus, tapi tetap aja dipaksakan balikan sama mantan. Sia-sia.

Kalau di beberapa kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan yang orang-orangnya sudah terlatih dengan kemacetan, saya lebih nggak habis pikir. Please, kalian sudah menghabiskan setiap hari untuk macet-macetan dijalan, kenapa harus ada satu malam yang dihabiskan bersama untuk macet-macetan (lagi)?

 

Nah, jika saya merasa terganggu dengan 3 hal diatas, lalu tahun baru saya seperti apa? Pastinya sangat elegan.

Tentu saja tanpa resolusi, karena saya belum tahu bakalan ngapain ditahun yang baru. Saya hanya berdoa semoga di tahun yang baru semua hal yang baik akan datang. Juga tanpa terompet dan tanpa kemacetan. Tahun baru saya akan sangat menyenangkan dan menenangkan. Saya akan berada di tempat sepi, sendiri, dan hanya musik dari mp3 yang menemani. Ini hanya pergantian tahun kan? Bukanlah pergantian hidup. Kita terbangun di esok hari bukan menjadi seseorang yang baru dengan meninggalkan diri kita di tahun yang lama. Melainkan teteaplah seseorang yang sama dengan beban hidup yang sama. Ya, tahun baru saya kali ini menyedihkan, diatas tumpukan bantal sendirian.

Anyway, Selamat tahun baru teman-teman!

 

Tulisan ini hanya untuk bersenang-senang, hidup jangan terlalu serius. Mari tertawakan hidup kita yang menyedihkan ini bersama-sama.

 

Wassalam.

 

Di dalam kegelapan Jakarta, Akhir Desember 2015

Written by : Rifat Nasution

Menghipnotis Itu Mudah 728x90
2 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Notify me of followup comments via E-Mail.
You can also followup comments without commenting.